Minggu, 14 Agustus 2016

JAUH PANGGANG DARI API



Merdeka berasal dari akar kata bahasa Sansekerta: ma-har-dhi-ka, yang berarti sebuah kondisi atau keadaan dimana seseorang bebas dari segala ikatan yang memasung, baik yang bersifat sosio-kultural, maupun ikatan yang bersifat fisik.

Kita sepakat Indonesia telah merdeka dalam arti tidak lagi dijajah/diikat oleh jerat kolonialisme atau penjajahan fisik bangsa asing, maupun oleh bangsa sendiri. Namun benarkah demikian ??

Merdeka tidak boleh berhenti, bila saja ini merupakan suatu proses tentu kita harus “lebih cepat, lebih baik” dengan “melanjutkan” prosesi” menuju perubahan yang bermakna eksternal maupun internal. Tapi kenyataannya, masih jauh panggang dari api, semua masih jauh dari harapan (tentu dengan tidak mengabaikan perubahan signifikan dalam 5 tahun ke belakang pasca reformasi).  

Di usia kemerdekaan RI yang ke 71 ini seharusnya kita mengecap kematangan dan kedewasaan yang mendekati tujuan.

Meski begitu, mengawali hari bahagia ada baiknya sebagai insan manusia yang lahir di bumi pertiwi kita memanjatkan puji syukur atas anugerah kemerdekaan. Seraya tak lupa memanjatkan doa memohon bimbinganNya di tahun-tahun mendatang sekaligus pemulihan Indonesia menuju Indonesia lebih baik. Amin! Dirgahayu Indonesiaku !! [Ira]

Kamis, 11 Agustus 2016

BURUAN NIKAH !!!

Bila Belum Menikah, disingkat BBM, bukan Biasanya Banyak Masalah. Ada nama Dira, sebut saja begitu, usianya melebihi 30, artinya untuk beberapa kalangan dan kebiasaan, usianya dijuluki area BBM (Berani Banget Menunda). Setiap berada di lingkungan tertentu, terpaksa Dira selalu berusaha menetralisir dengan mendinginkan telinga bila mendengar pertanyaan “Kapan nikah? Sudahlah jangan suka milih-milih, jangan lama-lama inget umur, jangan sibuk kerja terus, berdoa minta sama Tuhan, minta doa kesembuhan, siapa tau kena kutuk susah jodoh.

Bayangkan sahabat-sahabat, teman-teman, konon, menurut catatan Dira dalam satu minggu ‘dipertemukan’ dengan orang-orang (lebih banyak dari orang-orang) yang selalu tak kenal henti mengulang kalimat-kalimat itu, sampai berujung dengan: “minta doa kesembuhan saja, itu namanya kutuk. Oh Gosh!! Wajar-wajar saja bila Dira, selalu membawa sekantong plastik batu es, selain untuk pendingin telinga bila temperature memanas, sekantong plastik batu es terbukti efektif dan ampuh untuk diluncurkan dengan kecepatan tinggi dan mengarah right on the nose (bull’s eye), membungkam suara-suara ‘nyeleneh tadi.

foto:ilustrasi
Ini ‘celotip’ (celoteh piktip) CNN (Cuma Nanya-Nanya) dengn Dira, di salah satu sudut cafĂ© di ibukota, beberapa waktu lalu: Dira yang satu ini adalah contoh perempuan yang tidak mau gegabah. Meski ada “Dira” lain sering kali memilih untuk selalu gegabah tetapi belum menikah juga sampai membaca tulisan ini dan tetap memilih untuk ‘tetap gegabah’ (bila tidak mengerti tulisan ini, hindari bertanya ke rekan terdekat, malu!!).

Memang aneh bila belum menikah dikaitkan dengan usia-lah, apa kata oranglah, dan celetukan2 lain. Bentuk intimidasi (dan terror) ini kerap terjadi di dalam lingkungan keluarga. Si anak (perempuan) bisa saja kalut dan memilih pasangan, as soon as possible,” atau obral hingga 90%. Akan tetapi bila terjadi konflik rumah tangga, si anak (perempuan) berpotensi ‘mengusung beban’ lebih berat ketimbang pihak-pihak lain. Orang tua langsuuuunngg mencari kuaambing hituaam, cuci tangan, cuci kaki, dan sambil mencari pilihan pengganti.
Pengakuan Anggitasari, ini bukan nama aslinya tapi bukan juga artis terkenal, yang bekerja sebagai Account Executive di sebuah radio swasta di Jakarta. Meski usia di atas zweiundreissig, “Saya kerja bukan untuk cari cowok, tapi ‘ngejar karier, ngejar masa depan, ngejar hari esok, dan juga …” (‘ngejar gajinya hahahaha… ya iyalahhh).

Menikah itu butuh modal dan itu harus dikumpulin dulu, bukan jatuh dari langit … gedubraakk!. Saya ‘ngeri liat temen-temen yang berlomba mau nikah, kalau ditanya alasannya pasti rata-rata menjawab karena umur, desakan orang tua yang malu anak gadisnya ‘gak laku-laku, takut dibilang perawan tua dan sebagainya. Ketakutan-ketakutan itulah yang membuat temen-temen Saya “tutup mata” terhadap setiap perbedaan yang justru sebetulnya sangat penting untuk dipertimbangkan pada masa pacaran apakah memang “Saya itu tulang rusuknya dia” atau apakah “dia tulang rusuk saya, jangan-jangan Saya cuma dijadiin tulang punggung oleh dia dan keluarganya. Artinya, Saya hanya sebagai sapi perah untuk membiayai suami dan sanak familinya sebanyak 4 kelurahan itu. Saya tidak akan mau berpikir “gampang”, bahwa karakter buruk yang sudah tertanam selama berpuluh-puluh tahun di dalam diri “sang kekasih” bisa hilang begitu saja pada saat menikah. Bayangkan, bila punya pasangan yang memiliki “talenta” suka berhutang atau “tidak pernah puas dengan 1 perempuan??, Oh nooo!!!”

Itu pendapat Anggitasari, ia anggap menikah itu bukan seperti pacuan kuda, suami dan istri saling berkejaran membina karir untuk menghidupi orang lain. Terlepas setuju atau tidak setuju, benar atau tidak benar, ia melihat fakta itu. “Saya pasti pengen nikah tapi dengan alasan yang tepat, dan kalau sudah waktu Tuhan, semua akan beres sesuai jalan-Nya, jadi ‘gak ada tuh hubungannya dengan katak kutuk dan ketek.

Don’t push her to get married just for sake of age, let her wait for the right time, coz God will provide her with the best person when the time comes. Setujuuuuu??? [Ira]