Bila Belum Menikah, disingkat BBM, bukan
Biasanya Banyak Masalah. Ada nama Dira, sebut saja begitu, usianya melebihi 30, artinya untuk beberapa kalangan dan kebiasaan,
usianya dijuluki area BBM (Berani Banget Menunda). Setiap berada di lingkungan
tertentu, terpaksa Dira selalu berusaha menetralisir dengan mendinginkan telinga bila
mendengar pertanyaan “Kapan nikah? Sudahlah jangan suka milih-milih, jangan
lama-lama inget umur, jangan sibuk kerja terus, berdoa minta sama Tuhan, minta
doa kesembuhan, siapa tau kena kutuk susah jodoh.
Bayangkan sahabat-sahabat, teman-teman, konon,
menurut catatan Dira dalam satu minggu ‘dipertemukan’ dengan orang-orang (lebih banyak
dari orang-orang) yang selalu tak kenal henti mengulang kalimat-kalimat itu,
sampai berujung dengan: “minta doa kesembuhan saja, itu namanya kutuk. Oh Gosh!! Wajar-wajar saja bila Dira, selalu membawa
sekantong plastik batu es, selain untuk pendingin telinga bila temperature
memanas, sekantong plastik batu es terbukti efektif dan ampuh untuk diluncurkan
dengan kecepatan tinggi dan mengarah right
on the nose (bull’s eye), membungkam suara-suara ‘nyeleneh tadi.
 |
| foto:ilustrasi |
Ini ‘celotip’
(celoteh piktip) CNN (Cuma Nanya-Nanya) dengn Dira, di salah satu sudut café di ibukota, beberapa
waktu lalu: Dira yang satu ini adalah contoh perempuan yang tidak mau gegabah. Meski
ada “Dira”
lain sering kali memilih untuk selalu gegabah tetapi belum menikah juga sampai
membaca tulisan ini dan tetap memilih untuk ‘tetap gegabah’ (bila tidak
mengerti tulisan ini, hindari bertanya ke rekan terdekat, malu!!).
Memang aneh bila belum menikah dikaitkan
dengan usia-lah, apa kata oranglah, dan celetukan2 lain. Bentuk intimidasi (dan
terror) ini kerap terjadi di dalam lingkungan keluarga. Si anak (perempuan) bisa
saja kalut dan memilih pasangan, as soon
as possible,” atau obral hingga 90%.
Akan tetapi bila terjadi konflik rumah tangga, si anak (perempuan) berpotensi
‘mengusung beban’ lebih berat ketimbang pihak-pihak lain. Orang tua
langsuuuunngg mencari kuaambing hituaam, cuci tangan, cuci kaki, dan sambil
mencari pilihan pengganti.
Pengakuan Anggitasari, ini bukan nama aslinya tapi bukan juga
artis terkenal, yang bekerja sebagai Account Executive di sebuah radio swasta
di Jakarta. Meski usia di atas zweiundreissig,
“Saya kerja bukan untuk cari cowok, tapi ‘ngejar karier, ngejar masa depan,
ngejar hari esok, dan juga …” (‘ngejar gajinya hahahaha… ya iyalahhh).
Menikah itu butuh modal dan itu harus
dikumpulin dulu, bukan jatuh dari langit … gedubraakk!.
Saya ‘ngeri liat temen-temen yang berlomba mau nikah, kalau ditanya alasannya
pasti rata-rata menjawab karena umur, desakan orang tua yang malu anak gadisnya
‘gak laku-laku, takut dibilang perawan tua dan sebagainya. Ketakutan-ketakutan
itulah yang membuat temen-temen Saya “tutup mata” terhadap setiap perbedaan
yang justru sebetulnya sangat penting untuk dipertimbangkan pada masa pacaran
apakah memang “Saya itu tulang rusuknya dia” atau apakah “dia tulang rusuk
saya, jangan-jangan Saya cuma dijadiin tulang punggung oleh dia dan keluarganya.
Artinya, Saya hanya sebagai sapi perah untuk membiayai suami dan sanak
familinya sebanyak 4 kelurahan itu. Saya tidak akan mau berpikir “gampang”,
bahwa karakter buruk yang sudah tertanam selama berpuluh-puluh tahun di dalam
diri “sang kekasih” bisa hilang begitu saja pada saat menikah. Bayangkan, bila
punya pasangan yang memiliki “talenta” suka berhutang atau “tidak pernah puas dengan 1 perempuan??, Oh nooo!!!”
Itu pendapat Anggitasari, ia anggap menikah itu bukan seperti
pacuan kuda, suami dan istri saling berkejaran membina karir untuk menghidupi
orang lain. Terlepas setuju atau tidak setuju, benar atau tidak benar, ia
melihat fakta itu. “Saya pasti pengen nikah tapi dengan alasan yang tepat, dan
kalau sudah waktu Tuhan, semua akan beres sesuai jalan-Nya, jadi ‘gak ada tuh
hubungannya dengan katak kutuk dan ketek.
Don’t push her to get
married just for sake of age, let her wait for the right time, coz God will
provide her with the best person when the time comes.
Setujuuuuu??? [Ira]